Tari Napa Bengkulu Selatan
TARI NAPA
Tari napa/tapa pengantin ini berisi ungkapan
kegembiraan dalam menyambut kedatangan
pengantin dan tamu
adat (mendah) ketika kedua pengantin tiba ke tempat acara atau
pesta yang diadakan, baik di rumah pengantin laki laki atau pengantin
perempuan. Selain itu tari Napa juga berfungsi sebagai penyambutan saat ada
tamu adat/pemerintahan.
Sejarah tari napa
ini berawal dari
zaman nenek moyang kita dahulu yaitu saat
putra raja hulu sungai ingin menikah dengan putri raja hilir sungai tetapi putri
raja hilir sungai tidak ingin menikah dengan
anak raja hulu sungai itu. Putri
raja hilir sungai lebih memilih menikah dengan putra raja hilir sungai. Setelah sakian
lama dekat akhirnya putri raja hilir
sungai dan putra raja hilir sungai menikah. Namun pada saat peresmian pernikahan ini, putra raja hulu sungai
beradu silat dengan putra raja hilir sungai
yangdimenangkan oleh putra raja hilir sungai.
Tari Napa menceritakan pertarungan dua orang yang saling beradu kekuatan.
Tari ini telah digunakan oleh masyarakat Bengkulu Selatan secara turun temurun
sebagai salah satu warisan kebudayaan nenek moyang masyarakat Bengkulu Selatan.
Tari napah adalah tarian pancak silat khas dari
Bengkulu Selatan khususnya tari pencak silat suku Serawai yang
ditarikan oleh pria dari kedua belah pihak keluarga pengantin. Pada dasarnya
tari napa pengantin merupakan rangkaian dari seni dendang yang dilaksanakan
pada saat acara pernikahan. Kalau seni dendang dilaksanakan pada acara malam
hari dan tari napa pada siang harinya. Jadi, tari Napa harus
didahului dengan kesenian dendang atau mutus tari pada malam harinya. Kalau tidak, maka tari Napa tidak sah/tidak boleh untuk dilakukan
Tarian ini dilakukan berpasangan biasanya dilakukan sebanyak 3 kali pertarungan. Tari napah
dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09.00
WIB pada saat mendah (tamu adat) sampai ke pesta
pernikahan. Saat rombongan pengantin dan
mendah/tamu adat sampai, mereka akan disambut dengan lengguai. Kemudian lengguai
diletakkan di atas tikar, kedua mempelai duduk di kursi, dan persiapan napa pengantin
dimulai.
Sarana Tari Napah:
1.Tikar
Foto: Tikar,
tempat lilin menyala, lengguai, dan pedang
Tikar yang harus digunakan saat tari napa ini adalah 2
tikar rumbai yang berasal dari daun pandan
diletakan bersilang.Tikar yang
diletakkan bersilang ini memiliki makna
pertemuan antara dua keluarga besar yang akan bersatu menjadi keluarga baru.
2. Tempat Lilin
Maksudnya di sini adalah beberapa lilin menyala yang diletakkan pada
tempatnya. Lilin yang menyala ini dianggap sebagai penerang batas untuk kedua
pendekar yang sedang melakukan tari napa agar mereka tetap mematuhi batas
masing-masing yang hanya melakukan bentuk hiburan dan tidak menggunakan pedang
mereka untuk saling melukai.
3. Lengguai
Lenguai bagi suku Serawai dianggap sebagai raja
adat. Setiap mau memulai serangkaian kerja adat maka harus dimulai dengan
menyerahkan lengguai terlebih dahulu. Saat
iringan pengantin bersama mendah/tamu adat sampai di depan jalan sepokok rumah
bimbang adat, lengguai yang tadinya berada di hadapan ketua adat
harus dihadapkan terlebih dahulu pada rombongan
mendah tersebut. Setelah diterima, lengguai itu diletakkan di atas tikar untuk tempat tari napa
dilakukan. Lengguai ini juga sebagai batas yang tidak
boleh dilewati oleh kedua penari napa
yanng sedang bertarung. Isi lengguai ini terdiri dari daun sirih, kapur, pinang,
gambigh,dan tembakau. Makna dari 5 isi lengguai ini adalah:
-Sirih bermakna lambang
adat
-Kapur bermakna bersihnya
kerja adat
-Gambir bermakna lapiak, lakup/tikar tempat duduk raja adat
-Pinang sebagai tonggak raja adat
-Tembakau adalah pengarang lembaga adat
3. Gendang /Rebana dan Serunai
Alat musik yang digunakan adalah 2
buah gendang/rebana yang dimainkan oleh
2 orang pria dan 1 buah serunai yang ditiup untuk
mengiringi syair-syair yang
dibawakan oleh seorang jundai.
4. Penari Napa
Penari napah dilakukan oleh 2 orang pria secara
berpasangan biasanya dilakukan 3 sesi. Di
setiap sesi, akan berhadapan perwakilan dari pihak pengantin laki-laki dan
pihak pengantin perempuan. Tari tapa pengantin yang dilakukan oleh penari napa
ini ada 2 jenis, yaitu tari rendai (tari
pendak silat dengan menggunakan tangan kosong) dan tari pedang. Adapun
pakaian yang digunakan oleh penari napa adalah baju
kemeja/batik tangan panjang, peci hitam, dan kain sarung. Alat yang dijadikan saat menari
napa adalah keris/golok/pedang (saat tari pedang). Pedang yang digunakan tidak
boleh benar-benar melukai lawan, hanya sekedar diayunkan seolah-olah mengenai
lawan. Mereka menari dengan lengguai sebagai penghadang di tengah-tengah yang
tidak boleh dilangkahi/dilewati.
5.
Jundai
Saat
melakukan tarian terdapat orang yang menyanyikan pantun dengan bersyair yang dikenal dengan sebutan jundai. Jundai biasanya terdapat 1 orang
pria, tetapi ada juga yang 2 orang yang berasal dari pihak mempelai pria dan
pihak mempelai wanita untuk berbalas pantun. Pantun-pantun yang dibawakan
memiliki kategori sebagai berikut:
1.
Ngensian (meninggikah derajat seseorang)
2.
Mujikah
(memuji seseorng)
3.
Ngetaui (mencaci seseorang)
Cara
membawakannya ialah dengan berpantun sambil bersyair dan saat tiap membacakan
pantun pada setengah dan akhir, bait penonton tari napa menjawab pantun dengan
ucapan sebagai berikut:
Pada
setengah bait pantun:
i rou tau
pada akhir pantun penonton mengatakan
i rou tau
ayon di
damping
hamping di damping
Contoh
pantun dalam tarian napah yaitu:
Pantun
pertama
Makan sirih berpinang tidak
Pinang adau di gunung batu
Lihat di kiri di kanan tidak
Terasau badan lumang piatu
Pantun
kedua
Anak ikan di makan ikan
Anak tengiri di dalam laut
Sanak bukan saudara bukan
Karna budi tersangkut paut
Sebelum dan
sesudah melakukan tari napa, kedua penari tadi akan melakukan penghormatan pada
kedua pengantin dan tamu adat (mendah). Jika tari napa sudah selesai dilaksanakan, maka kedua
pengantin akan didudukkan di pelaminan, dan tamu adat/mendah akan duduk di
dalam rumah untuk mengikuti prosesi selanjutnya.


Lah boleh itu cuma kalau masalah pantun jundai tidak terikat terserah dg tukang jundainya.
BalasHapus